Di Balik Awan Panas Membedah Siklus Erupsi Gunung Semeru dan Tantangan Mitigasi Abadi

Lumajang, Jawa Timur – Langit di atas Dusun Curah Kobokan kembali berubah
menjadi abu-abu pekat pada dini hari tadi. Gunung Semeru, puncak tertinggi
di Pulau Jawa, sekali lagi menunjukkan keperkasaannya melalui serangkaian
erupsi yang memaksa ribuan pasang mata terjaga dalam kecemasan. Sejak pukul
00.10 WIB, getaran tremor dan luncuran awan panas guguran (APG) kembali
menjadi pemandangan mencekam, menandai babak baru dalam siklus vulkanik
gunung yang dikenal dengan sebutan "Mahameru" ini.
Laporan komprehensif ini akan mengulas secara mendalam mengenai kronologi
erupsi terbaru, dinamika geologi di balik "batuk" Semeru, hingga potret
ketangguhan masyarakat lereng gunung yang hidup berdampingan dengan bahaya.
Kronologi Dini Hari yang Mencekam
Erupsi yang terjadi pada Kamis (12/2/2026) tercatat oleh Pusat Vulkanologi
dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui seismogram dengan amplitudo
maksimum yang signifikan. Kolom abu teramati membumbung setinggi 700 hingga
1.000 meter di atas puncak kawah Jonggring Saloko. Warna abu condong ke
arah kelabu tebal, menandakan material vulkanik yang dibawa cukup padat.
Namun, yang paling dikhawatirkan oleh petugas di Pos Pengamatan Gunung Api
(PPGA) Semeru di Gunung Sawur bukanlah sekadar kolom abu, melainkan
akumulasi material di ujung lidah lava. Curah hujan yang tinggi di sekitar
puncak memicu kekhawatiran terjadinya lahar dingin yang dapat menyapu
sisa-sisa material erupsi menuju sungai-sungai utama seperti Besuk Kobokan,
Besuk Bang, dan Besuk Kembar.
Mengapa Semeru Terus Bergejolak?
Secara geologis, Semeru adalah gunung api tipe stratovulcano yang sangat
aktif. Karakteristik utamanya adalah erupsi tipe "Strombolian"
dan "Vulcanian" yang terjadi hampir setiap hari dalam skala kecil. Namun,
apa yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya
peningkatan suplai magma dari kedalaman.
Para ahli vulkanologi menjelaskan bahwa kubah lava yang terbentuk di puncak
Semeru bersifat tidak stabil. Ketika tekanan gas dari bawah meningkat atau
ketika gravitasi tak lagi mampu menahan beban tumpukan lava baru, maka
terjadilah guguran. Interaksi antara material panas ini dengan air hujan
seringkali memperparah keadaan, menciptakan fenomena awan panas guguran
yang mampu meluncur dengan kecepatan ratusan kilometer per jam.
Dampak Sosial dan Psikologis: Hidup di Bawah Bayang-Bayang Mahameru
Bagi warga Kabupaten Lumajang, khususnya di Kecamatan Pronojiwo dan
Candipuro, Semeru adalah "bapak" sekaligus ancaman. Di satu sisi, abu
vulkanik menyuburkan lahan pertanian mereka, memberikan hasil panen sayur
dan buah yang melimpah. Di sisi lain, mereka harus selalu siap lari kapan
saja sirene peringatan dini berbunyi.
Trauma erupsi besar tahun 2021 masih membekas kuat di benak masyarakat.
Meskipun pemerintah telah membangun Hunian Tetap (Huntap) di kawasan yang
lebih aman, keterikatan emosional dan mata pencaharian seringkali membuat
warga kembali ke zona merah pada siang hari untuk bertani atau menambang
pasir. Fenomena "pulang pergi" ini menjadi tantangan besar bagi petugas
keamanan dan BPBD dalam memastikan keselamatan warga saat erupsi mendadak
terjadi.
Ekonomi Pasir vs Risiko Bencana
Sektor pertambangan pasir di aliran sungai Semeru adalah penggerak ekonomi
penting bagi Jawa Timur. Pasir Semeru dikenal memiliki kualitas terbaik
untuk konstruksi. Namun, aktivitas ini berada tepat di jalur maut lahar
dingin.
Saat status gunung berada di Level III (Siaga), aktivitas pertambangan
secara resmi dilarang dalam radius tertentu. Namun, realita di lapangan
menunjukkan adanya kucing-kucingan antara penambang dan petugas. Erupsi
terbaru ini kembali menghentikan total aktivitas ekonomi di sana,
menyebabkan kerugian materiil yang tidak sedikit bagi para pekerja harian
lepas yang bergantung pada ritme harian gunung tersebut.
Mitigasi: Antara Teknologi dan Kearifan Lokal
Pemerintah Indonesia telah melakukan investasi besar dalam sistem
peringatan dini di Semeru. Kamera CCTV inframerah, sensor seismik terbaru,
hingga radar cuaca telah dipasang untuk memantau pergerakan gunung secara
real-time. Namun, teknologi hanyalah satu sisi dari koin mitigasi.
Sisi lainnya adalah kearifan lokal. Masyarakat lereng Semeru memiliki cara
sendiri dalam membaca alam. "Suara gemuruh yang berbeda" atau "perilaku
hewan ternak yang gelisah" seringkali menjadi alarm alami bagi mereka
sebelum sensor elektronik mengirimkan notifikasi ke ponsel pintar.
Sinkronisasi antara data sains dari PVMBG dan kepekaan insting warga lokal
inilah yang terus diupayakan oleh para relawan bencana.
Tantangan Evakuasi di Medan Sulit
Salah satu kendala utama saat terjadi erupsi adalah aksesibilitas. Jembatan
Gladak Perak yang pernah hancur dan kemudian dibangun kembali merupakan
jalur vital. Jika jalur ini terputus atau tertutup material, evakuasi warga
di sisi Pronojiwo menjadi sangat sulit karena harus memutar melalui jalur
Malang yang memakan waktu berjam-jam.
BPBD Jawa Timur kini memfokuskan pada penguatan kemandirian desa melalui
program "Desa Tangguh Bencana" (Destana). Setiap desa di lereng Semeru kini
memiliki jalur evakuasi mandiri dan titik kumpul yang telah disepakati,
lengkap dengan cadangan logistik darurat.
Masa Depan Mahameru
Gunung Semeru tidak akan berhenti meletus dalam waktu dekat. Ini adalah
proses alami bumi untuk mencapai keseimbangan. Tantangan terbesar bagi
manusia bukanlah untuk menghentikan letusan, melainkan untuk beradaptasi
dengan ritme gunung tersebut.
Erupsi yang terjadi hari ini adalah pengingat bahwa di balik keindahan
puncaknya yang menawan, tersimpan energi dahsyat yang menuntut rasa hormat.
Penataan ruang yang ketat, edukasi bencana yang berkelanjutan, dan
penguatan ekonomi alternatif di luar zona bahaya adalah kunci agar
masyarakat Jawa Timur dapat terus hidup berdampingan dengan Sang Mahameru
tanpa harus kehilangan nyawa.
Himbauan Resmi
Hingga laporan ini diturunkan, status Gunung Semeru masih bertahan di Level
III (Siaga). Masyarakat dilarang melakukan aktivitas apapun di sektor
tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat
erupsi). Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak diperbolehkan melakukan
aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di
sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan
aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.
Diharapkan masyarakat tetap tenang namun waspada, serta tidak terpancing
oleh berita-berita hoaks yang seringkali muncul di media sosial saat
terjadi bencana alam. Ikuti selalu instruksi dari petugas lapangan dan
pantau perkembangan melalui aplikasi Magma Indonesia.

SULTAN AGUNG ZEINULLLAH

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama